Selasa, 10 Juni 2008

LECTIO DIVINA


Apakah Lectio Divina Itu?

Kitab Suci sekarang mulai banyak dibaca oleh umat secara perseorangan. Paling kurang pada kesempatan-kesempatan penting orang mulai membuka dan menggunakan Kitab Suci. Umat mulai mengenal dan belajar bergaul dengan buku suci ini. Puncak dan buah terindah dari pergaulan ini ialah kalau orang belajar berdoa dari Kitab Suci dan melaksanakan firman Allah. Hanya orang yang semacam itu yang pantas disebut bahagia (bdk Luk 11: 27 -28). Akan tetapi bagaimana kita dapat belajar berdoa dari Kitab Suci?
Di antara cara-cara yang diajarkan menurut hemat saya cara berdoa lectio divina adalah yang paling sederhana dan paling dalam. Cara ini ditemukan oleh para bapa padang gurun yang hidup antara abad ke-IV dan ke-VII terutama di wilayah yang sekarang disebut Timur Tengah. Lectio divina ini kemudian dikembangkan di barat terutama oleh para rahib dari tradisi Benediktin. Cara berdoa ini sekarang menjadi milik Gereja, karena sebenarnya memang sangat alkitabiah. Lalu, apakah lectio divina itu?
Lectio Divina adalah pembacaan Kitab Suci yang direnungkan dan dengan tujuan untuk berdoa dari Kitab Suci dan hidup dari Sabda Allah. Buku yang digunakan ialah Kitab Suci. Dalam tradisi kerahiban pembacaan atau lectio divina ini dilengkapi dengan karya bapa-bapa Gereja. Karya-karya ini sangat menolong pengertian Kitab Suci karena seluruhnya diresapi dan dijiwai oleh Sabda Allah. Meskipun demikian dalam pengertian sekarang buku utama dan pertama serta yang menjadi pusat lectio divina ialah Kitab Suci. Jadi lectio divina itu berbeda dengan pembacaan rohani atau pembacaan buku-buku yang dianggap berbobot untuk hidup rohani (G. Giurisato, Lectio Divina Oggi ,10-12). Perbedaannya akan menjadi lebih jelas lagi dari uraian di bawah ini.

Semangat Dasar Lectio Divina

Lectio divina itu akan berhasil kalau hidup kita dijiwai oleh beberapa semangat dan keyakinan iman berikut:
Hidup kita ini tidak punya arah yang jelas kalau kita tidak dibimbing oleh firman Allah. Kita akan lebih berjalan dalam kegelapan daripada dalam terang. “FirmanMu adalah pelita bagi langkahku: (Mzm 119:105) harus menjadi pernyataan iman pribadi kita. Kita harus pertama-tama yakin bahwa hanya ada satu hal yang perlu dalam hidup yakni duduk dikaki Yesus, mendengarkan sabdaNya dan melaksanakannya (Luk 10:38 -42). “Carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6: 32 ).
Lectio divina itu akan berhasil kalau kita percaya akan keunggulan Kitab Suci lebih daripada kitab-kitab yang lain. Kitab Suci pertama-tama adalah sumber hidup yang kekal. Orang Yahudi membaca Kitab Suci karena mereka yakin bahwa olehnya mereka memperoleh hidup yang kekal (Yoh 5:39 ). Yesus membenarkan hal itu dan menjelaskan bahwa kitab-kitab ini memberikan hidup yang kekal justru karena memberikan kesaksian tentang diri-Nya. Barangsiapa yang percaya dan datang kepada-Nya akan memperoleh hidup itu (Yoh 5:40 ) karena “dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia” (Yoh 1:4).
Kitab Suci adalah pula sumber hikmat. Dia menuntun kita kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (2Tim 3:15 ). Akhirnya Kitab Suci memberikan ketekunan dan pengharapan karena dia terus menerus memperhadapkan kita dengan Allah sendiri yang adalah “sumber ketekunan dan pengharapan” (Rm 15: 4-5,13).
Lectio Divina menuntut bahwa kita membaca Kitab Suci karena digerakkan oleh suatu kerinduan untuk bertobat. Kita mau mengubah hidup kita untuk menjadi serupa dengan Kristus. “Berbahagialah orang yang murni hatinya, karena mereka akan melihat Allah (Mat 5:8). Orang yang mau bertobat akan menjaga hatinya. Dia akan memiliki kerendahan hati untuk mengakui dosa-dosanya dan tidak membanggakan sesuatupun tentang dirinya (bdk Luk 18:9-14).
Hati yang “kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara” (Luk 10:41 ) juga akan sulit mendengar firman Allah. Hati kita haruslah bebas supaya dapat berjaga di hadapan Allah. Hanya firman Allah yang disimpan dalam hati yang baik akan mengeluarkan buah dalam ketekunan (bdk. Luk 8:15).
Akhirnya lectio divina haruslah diadakan dalam Roh Kudus. Kita harus berdoa mohon bantuan Roh Kudus yang bersemayam di dalam hati kita: “Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu”. (Yoh 14: 17). Kitab Suci telah ditulis dalam Roh Kudus, maka “harus dibaca dan ditafsirkan dalam Roh itu juga” (Dei Verbum 12). Juga “supaya sabda Allah yang berkumandang dalam telinga benar-benar menghasilkan buah dalam hati, diperlukan karya Roh Kudus” (Ordo Lectionum Missae 9). Kita perlu sadar akan kebenaran-kebenaran itu. Janganlah orang membaca Kitab Suci tanpa berdoa terlebih dahulu. Tanpa Roh Kudus kita tidak mungkin mengerti Kitab Suci karena kitab ini menyampaikan pikiran dan rahasia Allah sendiri: “Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah” (1 Kor 2:11 ). Juga tanpa Roh Kudus kita tidak dapat percaya bahwa Yesus adalah Tuhan (1 Kor 12:3). Tanpa Roh Kudus kita tidak dapat hidup menurut tuntutan-tuntutan Injil (Rm 8:13 ; 1 Tes 4:7-8) dan tidak tahu bagaimana harus berdoa (Rm 8:26 ). Tak perlu kiranya saya berpanjang lebar tentang peranan Roh Kudus dalam hidup manusia. Pokoknya karena Roh Kudus adalah jiwa Kitab Suci, maka Roh itu juga harus menjadi jiwa lectio divina (S.A. Panimolle [editor], Ascolto della Parole e Preghiera: La “Lectio Divina”, 81-103, 187-211 dengan sangat baik menguraikan tentang peranan Roh Kudus dalam lectio divina baik menurut Kitab Suci maupun menurut Vatikan II).

Beberapa Persyaratan

Apabila seseorang mau berdoa dari Kitab Suci dengan mengadakan lectio divina, dia harus memenuhi beberapa persyaratan pendukung yang berikut ini:
Pertama, dia harus mencari suatu tempat yang sunyi: “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat 6:6). Memang “kamar” yang dimaksud Yesus disini mungkin pertama-tama adalah kamar batin atau hati kita. Akan tetapi, tanpa suatu tempat yang sunyi dan terpisah untuk sementara waktu dari saudara-saudara kita yang lain, kiranya sulit kita belajar mengadakan percakapan batin dengan Tuhan. Mungkin biara-biara dapat menolong orang yang tidak mempunyai kemudahan mendapat tempat yang sunyi atau kamar untuk mengadakan lectio divina.
Kamar atau tempat yang sunyi bukanlah surga. Di sana Bapa surgawi menanti kita. Akan tetapi, ke tempat ini pula akan datang iblis menyerang kita dengan segala macam godaan: “Lalu Yesus dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai iblis” (Luk 4:1-2). Godaan yang paling utama ialah melalui pikiran dan kekuatiran-kekuatiran kita. Kesunyian dan keheningan dirasakan sebagai suatu beban. Untuk berperang melawan godaan-godaan ini dan terutama untuk lebih menyadari kehadiran Allah mungkin beberapa sarana berikut dapat membantu: memasang sebuah ikon untuk meletakkan sebuah salib di hadapan kita dengan lilin yang bernyala (E. Bianchi, Pregare La Parola: Introduzione alla “lectio divina”, 90). Janganlah kita segan-segan menggunakan sarana ini, tetapi hendaknya dijauhkan setiap romantisme atau hal yang hanya membangkitkan perasaan.
Kedua, orang harus menyediakan waktu khusus dan terutama untuk para imam, diakon, dan biarawan-biarawati lectio divina ini harus menjadi acara hariannya (bdk-Presbyteronum Ordinis 13; Perfectae Caritatis 6; Dei Verbum 25). Waktu yang paling baik ialah pagi-pagi benar atau waktu malam, ketika kita belum atau tidak mau lagi mendengar suara-suara lain kecuali untuk mendengarkan firman Allah.
Orang harus menetapkan waktu khusus ini dan setia melaksanakannya. Waktu ini harus benar-benar khusus dan tidak boleh sebagai pengisi waktu lowong. Allah bukan pengisi waktu lowong atau waktu luang. Apabila orang bersikap begitu, dia tidaklah sungguh-sungguh dengan hidup rohaninya, dia tidak mengutamakan Allah di atas segala sesuatu.
Untuk mengadakan lectio divina orang harus menyediakan waktu paling kurang satu jam setiap hari. Memang ada bentuk lectio divina yang lebih sederhana. Akan tetapi waktunya haruslah cukup dan tidak boleh dilakukan dengan tergesa-gesa.
Ketiga, orang harus mempunyai Kitab Suci sendiri supaya dengan menggarisbawahi ayat-ayat pokok mulai timbul cinta yang hangat dan hidup terhadap buku ini (bdk Sacrosanctum Concilium 24). Dalam mengadakan lectio divina Kitab Suci hendaknya selalu dibiarkan terbuka di hadapan kita. Hal ini sangat penting untuk menghindarkan pelanturan.
Sangat dianjurkan supaya dalam mengadakan lectio divina janganlah memilih-milih teks-teks Kitab Suci entah yang disukai atau yang dianggap berguna. Sabda Allah tidak boleh digerogoti.
Hendaknya kita mengikuti cara-cara berikut:

a). Mengikuti tata bacaan misa menurut tahun liturgis atau bagi yang mendoakan Ibadat Ofisi dapat juga mengikuti tata bacaan ini. Cara ini sangat berdaya guna. Tata bacaan Misa dan Ofisi bersifat bacaan semikontinyu atau hampir bersambung menurut urutannya dalam buku. Juga buku-buku yang dibaca ditata sejauh mungkin menurut urutannya dalam sejarah keselamatan. Peristiwa-peristiwa dan firman-firman pokok sejarah keselamatan ditampilkan. “Dengan demikian pelbagai saat dan peristiwa sejarah keselamatan yang langkah demi langkah diingatkan kembali oleh liturgi sabda” (Ordo Lectionum Missae 61) menjadi bahan renungan yang makin mendalam dalam lectio divina. Dengan mengikuti tata bacaan Misa atau Ofisi kita juga tidak akan mudah jatuh ke dalam tindakan improvisasi atau menuruti selera sesaat. Kita sebaliknya akan dididik untuk masuk dalam semangat Gereja (G. Giurisato, 22; E. Bianchi , 96-97).
b). mengambil salah satu buku dari Kitab Suci dan membacanya secara teratur dari awal sampai akhir.
Bagaimana tentang panjangnya bacaan untuk lectio divina? Cukup beberapa ayat! Pedomannya ialah bacaan-bacaan Misa. Pada umumnya bacaan-bacaan itu cukup pendek. Kalau kesatuan atau perikop itu cukup panjang bacalah satu atau dua alinea. Hal ini berlaku terutama bagi orang yang belum biasa melakukan lectio divina.
Langkah-langkah Lectio Divina
Orang pertama yang menggariskan secara sistematis bagaimana lectio divina itu harus diadakan ialah Guigo II, seorang rahib ordo Kartusian, yang wafat pada tahun 1188. Penjelasan itu diberikannya dalam suratnya kepada rahib Gervasius, saudaranya seordo, dengan judul “ Surat tentang hidup kontemplatif” atau lebih dikenal dengan nama “Tangga para rahib”.

Dalam surat ini Guigo II mengatakan bahwa ada empat anak tangga kegiatan rohani untuk seorang rahib agar dia dapat naik sampai ke surga. Gambaran ini diambil dari mimpi Yakub di Betel (Kej 28:12; bdk Yoh 1:51 ). Keempat anak tangga itu ialah lectio atau pembacaan, meditatio atau meditasi/renungan, oratio atau doa dan contemplatio atau kontemplasi. Baiklah istilah-istilah ini dihafalkan karena kerap akan kami gunakan tanpa memberikan terjemahan. Dalam perjalanan sejarah uraian Guigo II itu dikembangkan dan diperdalam oleh banyak tokoh dan penulis rohani yang lain. Akan tetapi, mungkin baik kalau di sini kami kutip salah satu penjelasan Guigo sendiri tentang apa yang dimaksud dengan keempat anak tangga itu:

“Lectio menyelidiki kemanisan hidup bahagia, meditatio menemukannya, oratio memohonnya dan contemplatio mengalaminya.

Lectio dapat disamakan dengan membawa makanan ke mulut, meditatio mengunyah dan melumatkannya, oratio mengenyam rasanya, dan contemplatio adalah kesedapan itu sendiri yang memberikan sukacita dan kekuatan. Lectio berarti berada di luar, meditatio masuk ke dalam sumsum, oratio berarti memohon karena merindukan dan contemplatio bersukacita karena kesedapan yang diperoleh”.

Penjelasan Guigo II tentang lectio divina ini sangat menyentuh karena dia membandingkan lectio divina itu dengan “makan makanan”. Perbandingan ini juga sekaligus sangat alkitabiah karena sabda Allah itu kerap disamakan dengan makanan (Ul 8:3; Yer 15:16 ; Ams 8:11 ; Mat 4:4). Akan tetapi perlu pula diperhatikan dengan sungguh-sungguh bahwa lectio divina seperti yang dimaksudkan oleh Guigo adalah pula suatu gaya hidup. Dia menyebutnya suatu “kegiatan rohani” yang tentu tidak berhenti pada jam lectio divina. Dari sebab itu, sekarang orang menambahkan anak tangga yang kelima yakni actio atau tindakan. Langkah kelima ini tentu saja dimaksudkan pula oleh rahib Kartusian tersebut. Lectio divina adalah suatu gaya hidup kontemplatif yakni gaya hidup yang berpusat pada Allah dan firman-Nya. Gaya hidup ini dipupuk oleh latihan lectio divina yang dilakukan pada jam yang paling hening dari hari kita dan ditepati setiap hari dengan setia. Baiklah sekarang kita melihat secara lebih konkret bagaimana kita belajar hidup dari sabda Allah dalam lectio divina.

Menyiapkan Hati dan Berdoa kepada Roh Kudus

Tidak mungkin kita mempunyai pengertian yang benar dan berdaya guna tentang Kitab Suci tanpa Roh Kudus. Kitab Suci haruslah dibaca dan ditafsirkan dalam Roh Allah sendiri. Sebelum berdoa kepada Roh Kudus kita perlu hening sejenak, mempersiapkan hati kita dan mengarahkannya kepada Allah: “Kepada-Mu ya Tuhan, kuangkat jiwaku, Allahku kepada-Mu aku percaya” (Mzm 25:1-2a). Persiapan hati ini penting karena pada umumnya hidup kita tidak terarah kepada Allah dan berpaut kepada-Nya.

Apabila hati kita sudah siap untuk berdoa, kita membuka dengan doa kepada Roh Kudus. Kita bisa menggunakan rumusan, tetapi hendaknya didoakan dengan tenang. Dalam lectio divina dalam kelompok dapat diambil nyanyian-nyanyian Roh Kudus yang klasik, agung dan tenang (mis. MB 448, atau PS 565-567, tetapi tidak perlu semua ayatnya).

Kita perlu sadar bahwa Roh Kudus itu menyertai kita dan diam di dalam kita. Dia sangat dekat di dalam kita, mau menjadi jiwa kita. Kita dilahirkan dari Roh (Yoh 3:6) ketika diberi anugerah iman kepada Yesus Kristus. Sejak itu segala-galanya yang terjadi dalam iman, terjadi karena kekuatan Roh. Dari sebab itu, kita perlu berdoa agar Roh membangkitkan iman kita dan mengarahkan seluruh daya kemampuan kita kepada sabda Allah, ya kepada Allah sendiri yang menyampaikan sabda itu.

Ada banyak rumusan doa kepada Roh Kudus. Salah satu yang terbagus yang pernah saya temukan ialah yang berasal dari Santa Maria Magdalena de Pazzi (1566-1607). Saya kutip doanya itu di sini. Mungkin dapat menolong anda apabila tidak menemukan kata-kata sendiri:

“Roh Kudus, Engkau tidak tinggal diam dalam Bapa yang tak bergerak dan dalam Sabda. Namun Engkau selalu dalam Bapa dan dalam Sabda serta dalam diri-Mu sendiri seperti juga dalam jiwa dan semua ciptaan yang suci.
Engkau bersemayam dalam ciptaan yang siap untuk menerima anugerah-anugerah-Mu dalam kemurnian. Engkau bersemayam dalam ciptaan yang mendambakan keserupaan dengan Dikau. Ya, Engkau bersemayam dalam ciptaan yang membiarkan darah Sang Sabda bekerja dalam diri-Nya untuk menjadi tempat tinggal yang pantas bagi-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus! Datanglah persatuan dengan Bapa, datanglah perkenan Sang Sabda. Engkaulah Roh Kebenaran. Engkaulah upah para suci, kesegaran jiwa, terang dalam kegelapan, kekayaan kaum papa miskin, harta para pecinta, kepuasan orang yang lapar dan penghibur orang asing. Engkaulah tempat segala harta kekayaan terkandung. Engkau menaungi Maria dan membuat Sang Sabda mengambil daging manusia. Kerjakanlah dalam diri kami melalui rahmat apa yang telah Kau ciptakan dalam Maria melalui hakekat dan rahmat. Datanglah, hai Engkau santapan pikiran-pikiran yang murni, Engkau sumber segala kebaikan, Engkau kemurnian yang tertinggi. Datanglah dan ambillah dari kami segala sesuatu yang menghalangi kami untuk diterima dalam Dikau”. Baiklah doa ini didoakan dengan tenang. Resapilah kata-katanya maka kita akan siap untuk mengadakan lectio.

KEGIATAN-KEGIATAN

LECTIO

Kegiatan rohani pertama dalam lectio divina ialah lectio atau pembacaan Kitab Suci. Tujuan lectio ialah mengerti apa yang dikatakan oleh teks. Pertanyaan pertama ialah “Mengertikah tuan apa yang tuan baca?” (Kis 8:30). Jadi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab ialah apa yang dikatakan oleh teks ini? Apa isinya? Pengertian yang tepat tentang teks yang dibaca sangat penting agar hidup kita dibimbing dan diarahkan oleh sabda Allah. Soalnya di sini bukanlah hal “terkesan” atau “tersentuh” oleh sesuatu ayat karena hal itu sangat tergantung kepada keadaan batin kita. Apabila pembacaan Kitab Suci tergantung pada “terkesan” atau “tersentuh”, kita hanya mengikuti perasaan-perasaan sesaat kita dan tidak diarahkan oleh firman Allah. Vatikan II menasehatkan terutama kepada para imam, diakon dan katekis supaya dalam pelayanan sabda mereka “berpegang teguh pada Alkitab dengan membacanya secara tekun dan mempelajarinya dengan seksama” (Dei Verbum 25). Jadi sangat penting pembacaan yang teliti. Tanpa hal itu kita tidak akan dapat belajar hidup dari sabda Allah.

Tidak dari setiap orang dituntut untuk mempelajari Kitab Suci dengan kedalaman yang sama. Hal itu tidak mungkin. Yang pokok ialah bahwa dari setiap orang diminta untuk belajar mengerti teks sejauh kemampuannya. Setiap orang mempunyai ‘pertanyaan dan yang pertama harus diusahakannya ialah mencari jawaban atas pertanyaannya tersebut. Hendaknya dia puas dengan apa yang dimengerti. Yang masih gelap atau yang belum jelas akan menjadi jelas kemudian pada saatnya.

Nah, bagaimana sekarang kita harus mengadakan lectio? Apa yang harus dikerjakan supaya orang dapat mengerti apa yang dikatakan teks? Bagaimana orang dapat menangkap isi teks?

Kita perlu pertama-tama belajar membaca: “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar” (Luk 8:18 ). Membaca Kitab Suci dengan baik ialah membaca dengan seluruh diri kita. Kita harus membaca dengan seluruh tubuh kita agar kita dapat mendengar dan mengalirkan getaran kata-katanya ke dalam diri kita; kita harus membaca dengan akal budi untuk mengerti, dengan hati supaya kita sampai kepada Allah, dengan kehendak untuk melaksanakannya (bdk G. Giurisato, 23-24; E. Bianchi, 51). Dalam suatu rumusan yang padat membaca Kitab Suci dengan baik ialah “te totum applica ad textum” artinya berikanlah dirimu seluruhnya kepada teks (kata-kata ini berasal dari J.A. Bengel, pertengahan abad ke-18).

Bagaimana?

Pertama, kita perlu membaca dengan seluruh tubuh kita. Baiklah teks dibaca dua atau bahkan tiga kali secara lisan terutama dalam lectio divina bersama. Selingilah saat hening yang singkat di antara jawaban. Berilah perhatian pada kalimat dan pada kata-kata. Dengan demikian apa yang diucapkan oleh mulut bergetar dalam telinga dan menggema dalam diri kita. Cara lain untuk membaca dengan seluruh tubuh ialah menuliskan kembali teks yang menjadi bahan lectio divina. Mungkin ada yang heran bagaimana ada yang tekun melakukan pekerjaan yang melelahkan ini. E. Bianchi menceritakan bagaimana seorang saudaranya seordo, seorang pakar Kitab Suci dengan reputasi internasional selalu menuliskan kembali bacaan yang telah dihafalkannya dan kemudian membandingkan hafalannya dengan teks itu sendiri untuk melihat perbedaannya ( E. Bianchi , 97). Hanya pengalaman yang akan membuktikan apa buahnya dari latihan ini.

Kedua, membaca dengan akal budi. Tujuan lectio ialah untuk mengerti apa yang dikatakan teks dan apa isinya. Karena kebanyakan kita adalah orang yang kurang terlatih untuk memusatkan pikiran dan perhatian, maka baiklah kita membaca dengan alat tulis di tangan. Kita perlu melihat mana pernyataan-pernyataan yang pokok, siapakah yang berbicara atau bertindak, apa yang dikatakan atau tindakannya, kepada siapa, mengapa dan seterusnya. Yang dituntut dari kita ialah kemampuan untuk memperhatikan kalimat atau larik dengan teliti dan penuh cinta. Hindarkanlah segala ketergesa-gesaan. Akan tetapi, dari setiap orang dituntut bekerja menurut kemampuannya.

Ketiga, membaca dengan hati artinya dengan iman dan kerinduan untuk menerima hikmat Allah. Kita perlu selalu ingat bahwa lectio divina adalah suatu kegiatan rohani dan setiap langkah adalah suatu anak tangga untuk naik menuju Allah.

Mungkin setelah bekerja dengan susah payah menurut jalan-jalan yang telah ditunjukkan di atas masih ada hal-hal yang belum dimengerti. Apa yang harus dikerjakan? Yang harus dikerjakan ialah mencari keterangan dari buku tafsiran yang baik. Sama sekali tidak perlu menggunakan banyak buku. Jika dengan membaca atau mendengarkan tafsiran itu pertanyaan atau persoalanmu masih belum terjawab, biarkanlah hal itu. Tidak pernah orang dapat mengerti seluruh teks sekaligus. Begitu dalamnya rahasia Allah yang disampaikan melalui Kitab Suci itu sampai “manusia pertama tidak mengetahuinya dengan sempurna, dan yang terakhirpun tidak sampai menyelaminya pula” (Sir 24:28). Apa yang tidak anda mengerti sekarang, kerap akan menjadi jelas kemudian dan hal itu kerap pula terjadi dalam hidup. Kepada orang yang hidup dari iman, Allah sering berbicara melalui pengalaman hidup.

Lectio adalah suatu kegiatan rohani yang cukup berat dan menantang. Waktu yang digunakan untuk anak tangga rohani yang pertama ini harus benar-benar cukup terutama bagi para pemula atau yang belum biasa bergaul dengan Kitab Suci. Apabila seluruh waktu untuk lectio divina harus paling kurang satu jam, maka waktu untuk lectio bagi para pemula harus paling kurang setengah jam atau lebih daripada itu. Tidak perlu orang tergesa-gesa. Apa yang tidak dapat anda selesaikan waktu itu, akan disempurnakan Allah pada saat yang tepat. Mungkin yang lebih dahulu kita butuhkan untuk melangkah naik ke anak tangga pertama ini ialah kerendahan hati, kesabaran dengan diri sendiri dan ketekunan. Allah mau mendidik kita melalui kelemahan-kelemahan kita. Mungkin baik sebelum kita melihat anak tangga yang kedua, kita merenungkan kata-kata Severianus dari Gabala, uskup dan pengarang Suriah, yang wafat pada tahun 408, tentang lectio:

“Selidikilah Kitab Suci (Yoh 5:39 ). Jangan dengan membaca asal-asal saja, tetapi carilah, periksalah dan pelajarilah kedalaman-kedalaman kalimatnya. Allah sesungguhnya telah mempersiapkan Kitab Suci untuk kita. Akan tetapi, Dia telah menyembunyikan arti ucapan-ucapannya. Dia telah memberikan Kitab Suci kepada kita, tetapi tanpa membuka tafsirannya yang tersembunyi. Allah telah menyerahkan hal itu pada disiplin dan ketertiban usaha-usaha anda, untuk melatih akal budi anda dan untuk melihat apakah anda melayani Kitab Suci atau mau memperkosanya dengan melakukan kekerasan terhadapnya” (L. Leloir, Les Peres do Desert et la Biblle, La Vie Spirituelle, No. 669,66 [1986], 167-181, 176).

MEDITATIO

Apabila kita sudah cukup mengerti isi teks dengan menyelidiki dan mendalami terutama pernyataan-pernyataannya yang pokok, maka sekarang kita naik ke anak tangga rohani yang kedua yakni meditatio. Intisari meditatio ialah menerapkan seluruh rahasia dan kebenaran firman Allah pada diri sendiri. Dalam meditatio orang menyelidiki diri sendiri di bawah terang sabda Allah, di bawah bimbingan Allah dan pengarahan sabda-Nya. J.A. Bengel menyebut tahap ini: Rem totam applica ad te artinya “kenakanlah seluruh isinya pada diri anda”. Lalu, bagaimana caranya?

Pertama, kita harus mencari lebih dalam dan dengan seksama kebenaran yang tersembunyi yang ada di balik kata-kata atau pernyataan-pernyataan pokok yang telah kita lihat. Untuk itu kita perlu mengunyah Sabda Allah sehingga sarinya bisa menetes ke luar dan meresapi jiwa dan roh kita (A.M. Besnard, “La meditation a partir de la Parole”, La Vie Spirituelle, No.623,59 [1977] 804-838, 815). Caranya ialah dengan menyimpan sabda Tuhan itu dalam hati kita dan merenungkannya berulang-ulang dengan penuh cinta, iman dan kerinduan. Kita menghafalkan pernyataan-pernyataannya yang pokok dengan merenungkannya berulang-ulang. Kita perlu benar-benar sabar dan seperti Habakuk kita harus berdiri dan menantikan “apa yang difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang dijawab-Nya atas pengaduanku” (Hab 2:1). Dengan merenungkannya berulang-ulang kita mengunyah sabda Allah. Para rahib menyebut kegiatan rohani yang selalu mereka praktekkan ini ruminatio atau pengunyahan.

Mungkin orang bertanya bagaimana caranya mengulang pernyataan-pernyataan yang pokok itu dalam hati sampai saya menemukan kebenaran-kebenarannya yang tersembunyi? Apakah dengan mengulang-ulang kita tidak akan menjadi seperti mesin? Apakah kegiatan ini tidak akan membosankan? Semua keberatan ini dapat dipahami kalau kita melaksanakannya tanpa suatu tujuan yang lebih mendalam. Kita tidak mau mengulang sabda Allah demi perulangan itu sendiri. Bukan! Kita mengulangnya untuk menemukan kebenaran yang tersembunyi yang ada di balik kata-kata itu. Mencari kebenaran berarti bertanya. Kita mengulang dengan bertanya. Tidak ada pegangan konkret untuk hal itu, tetapi kita dapat bertanya, misalnya mengapa hal itu sampai terjadi? Mengapa dikatakan demikian? Bagaimana semuanya itu bisa terjadi? Apa tidak ada kemungkinan lain? Mungkin cukup sekian beberapa contoh pertanyaan. Meditatio adalah suatu kegiatan rohani yang bersifat pribadi di bawah terang sabda Allah. Perjalanannya tidak dapat direncanakan sebelumnya. Karena pengertian yang lebih mendalam tentang kebenaran yang tersembunyi itu adalah juga suatu anugerah, maka di dalam bertanya kita perlu selalu memohon bantuan Roh Kudus agar memimpin kita kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12 ). Tanpa kekuatan yang datang dari atas kita tidak dapat memahami “betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:18 -19).

Orang bisa mencari kebenaran yang tersembunyi itu dengan cara melihat teks(-teks) lain di mana kebenaran itu diungkapkan dengan lebih jelas. Perbandingan dengan teks yang sejajar ini diadakan hanya untuk mencari keterangan yang lebih jelas atas pernyataan-pernyataan yang belum kita tangkap dengan baik (contoh: mungkin untuk mengerti Luk14:26 kita perlu melihat Mat 7:13-14). Cara berdoa semacam ini akan membuat kita melihat kesatuan rohani yang mengagumkan dari seluruh Kitab Suci karena suatu teks ditafsirkan oleh teks Kitab Suci yang lain. Kitab Suci ditafsirkan oleh Kitab Suci.

Akhirnya perlu kami tandaskan di sini bahwa mengingat sabda Allah itu penting sekali untuk perkembangan hidup rohani. Sabda yang tidak diingat juga tidak akan berpengaruh dalam hidup. Dari sebab itu Santo Paulus menasihatkan:

“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain, dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita: (Kol 3:16 -17).

Ini berarti bahwa kalau kita menyimpan firman Allah itu dalam hati yang baik dengan selalu mengingatnya, kita akan hidup secara bijak, tahu berdoa dan tahu hidup dengan selalu mengingat Tuhan. Sayang sekali bahwa sekarang orang malas mengembangkan kemampuannya untuk mengingat, lebih-lebih lagi untuk mengingat sabda Allah di dalam hatinya.

Kedua, mengenakan seluruh kebenaran firman Allah pada diri sendiri. Apabila kita telah lama merenungkan firman Allah dengan cara seperti yang kami jelaskan di atas, maka kekuatan sabda Allah secara penuh rahasia memasuki jiwa dan roh kita serta bekerja di dalam diri kita. Kita mulai berada dalam terang sabda Allah. Kita ditelanjangi Allah. Firman-Nya “menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada sesuatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggung jawab” (Ibr 4:12 -13). Inilah saat yang genting, saat kejujuran kita di hadapan Allah dan diri kita sendiri. Kita ditantang untuk melihat secara jujur dan berani tentang sikap kita terhadap Allah dan kebenaran yang disampaikan-Nya. Apakah kita sungguh-sungguh percaya? Apakah kita benar-benar berharap kepada-Nya? Apakah kita mengasihi Dia dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti Kristus mengasihi kita?

Dengan demikian meditatio membuat kita melihat dosa-dosa kita dan membangkitkan penyesalan, permohonan ampun, iman dan pengharapan akan kerahiman Allah. Meditatio dapat membuat kita merasakan keagungan Allah dan melihat kebenaran firman-Nya serta membangkitkan suka cita, syukur dan pujian.

Meditatio dapat pula berarti melihat hidup Gereja dan dunia dalam terang kebenaran-kebenaran yang tersembunyi dari sabda Allah. Hal ini berlaku pertama dalam lectio divina kelompok tetapi juga dalam lectio divina perseorangan. Kita adalah anggota dari satu tubuh, diberi minum dari satu Roh, dipanggil kepada satu pengharapan, kepada pekerjaan pelayanan untuk membangun tubuh Kristus (bdk Ef 4:1-16). Situasi Gereja dan masyarakat yang telah dilihat dalam terang sabda Allah harus menjadi keprihatinan dan nafas hidup kita, doa dan perjuangan kita.

ORATIO

Tangga rohani ketiga dari lectio divina ialah oratio (= doa). Allah memanggil kita dalam Putera-Nya ialah agar kita sebagai orang-orang yang saling mengasihi hidup di dalam persekutuan dengan-Nya (bdk 1 Yoh 1:1-4). Allah membuka diri-Nya dan rahasia kehendak keselamatan-Nya agar kita juga membuka diri terhadap-Nya. Tuhan telah berfirman. Kita harus menjawabnya dalam doa dan ketaatan iman. Tujuan lectio ialah agar kita berdoa dan karena kekuatan doa kita menyerahkan akal budi, kehendak, hati nurani dan seluruh tenaga kita kepada-Nya.

Oratio ialah doa yang digerakkan dan diilhami oleh sabda. Dalam kenyataannya kita tidak tahu berdoa sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi berkat lectio divina kita diajak untuk berdoa menurut kehendak Allah dan Roh sendiri mulai berdoa untuk kita kepada Allah (bdk Rm 8:26 -27).

Doa yang digerakkan oleh sabda Allah dan lahir daripadanya hidup dalam semangat dan roh yang ada di dalam firman. Hal ini sangat jelas tampak dalam Liturgi Gereja. Bacaan pertama dalam perayaan Ekaristi ditanggapi dengan puisi mazmur yang senada dengan semangat serta pesan bacaan bacaan tersebut. Jawaban itu dapat bersifat pujian dan syukur, sukacita dan kagum, ketakutan dan penyembahan atas perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib. Jawaban itu dapat pula berbentuk keluh kesah dan permohonan, kekecewaan atau pernyataan kepercayaan dan pengharapan serta: diam mendengarkan Allah. Doa yang lahir dari lectio divina akan memiliki sifat-sifat itu pula, setiap kali berbeda sesuai dengan keadaan jiwa kita di hadapan Allah. Bukan hanya keadaan jiwa kita melainkan pula keadaan Gereja dan masyarakat. Teks yang sama dapat melahirkan doa yang berbeda-beda setiap kali sesuai dengan terang yang diberikan Allah untuk melihat situasi pribadi kita, Gereja dan masyarakat.

CONTEMPLATIO

Anak tangga terakhir dari kegiatan rohani lectio divina ialah contemplatio (= kontemplasi). Apa yang dimaksud dengan kontemplasi ini? Kontemplasi adalah suatu pengangkatan jiwa manusia pada Allah, suatu pengangkatan yang membuat jiwa itu sendiri seperti tinggal dan berpaut pada-Nya dan menikmati kemanisan abadi.

Pengangkatan jiwa ini terjadi melalui pendengaran sabda Allah, suatu pendengaran yang demikian tajam sampai membuat orang berpaut pada Allah dan mengenal serta melihat segala sesuatu dengan mata dan hati Allah. Kontemplasi adalah suatu anugerah Allah, anugerah Roh hikmat dan wahyu yang membuat hati orang terang (bdk Ef 1:16b-18). Firman Allah menjadi terang bagi jalannya (Mzm 119:105). Contoh jiwa yang kontemplatif itu ialah misalnya Santo Paulus. Seluruh pikiran, perhatian, hati dan semangatnya hanyalah Kristus. Baginya hidup adalah Kristus (Flp 1:21 ). Dialah yang selalu diberitakan Paulus setiap kali memberi nasihat atau mengajar (Kol 1:28 ). Akan tetapi bukan lagi dia yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam dia (Gal 2:20 ). Segala sesuatu dianggapnya rugi karena pengenalannya akan Kristus Yesus, Tuhannya (Flp 3:7-8).

Kontemplasi adalah buah dan anugerah pendengaran dan ketaatan iman yang hidup. Kontemplasi bisa dianugerahkan dalam doa, tetapi dia lebih terjadi dalam hidup, ya, dalam hidup yang digerakkan dan diterangi oleh firman Allah. Seorang kontemplatif hidup di dalam Allah, dia mencari dan memikirkan perkara yang di atas, di mana Kristus ada (Kol 3:1-2). Ini tidaklah berarti dia jauh dari dunia dengan segala pergulatan hidupnya. Dia tetap bergumul dalam dunia, tetapi dia melihat segala sesuatu dengan pikiran Allah (bdk Mrk 8:33 ).

KESIMPULAN

Lectio divina adalah sekaligus suatu gaya hidup dan kegiatan rohani. Sebagai gaya hidup dia percaya akan kekuatan sabda Allah: Dia percaya bahwa hanya satu saja yang perlu dalam hidup ini yakni duduk di kaki Yesus dan mendengarkan Dia. Sebagai gaya hidup lectio divina tidak berhenti pada jam lectio. Dia belajar menyimpan sabda Allah dalam hati yang murni, merenungkannya di tengah kesibukannya dan mengangkat hatinya dalam doa dan ketaatan kepada Allah.

Keempat anak tangga lectio divina itu merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan seperti terungkap dalam rumusannya yang klasik ini: “legendo oro, orando contemplor” artinya saya membaca untuk berdoa dan dengan berdoa saya berkontemplasi. Lectio divina adalah suatu perjalanan hidup rohani yang tidak mudah dan pendakian yang cukup berat. Karena itu, hendaknya orang belajar sabar dan memiliki kebijakan petani desa yang sederhana.

BAGAIMANA MENGADAKAN LECTIO DIVINA

1. Persiapan
a. Menghaturkan selamat datang dan mengajak peserta untuk mempersiapkan batin. HENING SEBENTAR!
b. Kemudian untuk memperdalam persiapan hati ini dapat didoakan dengan tenang Mzm 19:8-15 atau Mzm 119 menurut pembagian baitnya, setiap kali cukup satu bait (8 ayat). Hening sebentar!
c. Mengajak umat untuk berdoa memohon penerangannya Roh Kudus. Bisa diambil nyanyian dari MB 448, ayat 1-4 PS 565 atau nyanyian-nyanyian Roh Kudus yang lain yang dikenal umat. Kemudian hening sejenak. Waktu persiapan ini hendaknya benar-benar cukup, antara 10-15 menit.

2. Lectio
a. Pembacaan secara lisan. Bacalah dengan baik! Dapat pula diminta seorang peserta untuk membacanya, tetapi haruslah dipersiapkan lebih dahulu.
b. Kemudian pemandu lectio divina menjelaskan secukupnya tentang isi teks.
c. Lalu para peserta diminta untuk membaca kembali teks secara pribadi: mencatat mana pernyataan-pernyataan yang pokok, melihat mana yang belum dimengerti.
d. Lalu diadakan tanya jawab tentang isi teks. Apabila ada pertanyaan yang sulit carilah penjelasannya dalam buku tafsiran atau dalam Kitab Suci dengan catatan kaki. Tidak perlu semua persoalan dipecahkan.
e. Setelah pembicaraan secukupnya untuk mengerti teks, pemandu mengajak peserta untuk hening sebentar dan berdoa kepada Roh Kudus!

3. Meditatio
a. Pemandu mengajak para peserta untuk menggali kebenaran-kebenaran yang tersembunyi dibalik pernyataan-pernyataan pokok teks tersebut. Peserta bisa diminta untuk menuliskan pernyataan-pernyataan tersebut di dalam buku catatannya atau untuk umat yang sederhana / buta huruf / tidak mempunyai Kitab Suci, pemandu bisa menandaskan / mengulang / menegaskan pernyataan-pernyataan pokok itu supaya mereka bisa mengingat di dalam hatinya.
b. Pemandu bisa menolong para peserta untuk lebih memahami teks dengan mengambil satu / dua teks Kitab Suci (jangan lebih!) lain yang lebih menjelaskan apa yang dikatakan oleh teks itu.
c. Lalu pemandu mengajak peserta untuk masuk dalam saat hening untuk mengunyah sabda dengan penuh cinta, kerinduan, ketenangan, kesabaran, kerendahan hati di hadapan Tuhan serta menanyakan dalam hati, misalnya, mengapa hal itu dikatakan, untuk apa dan siapa yang mengatakan itu?
d. Pertanyaan penting meditatio ialah apa artinya pesan ini untuk anda pribadi, untuk Gereja. Siapakah anda dan siapakah Gereja di dalam terang hikmat Allah yang tersembunyi di dalam teks?

NB: Waktu yang disediakan untuk meditatio ini harus sungguh-sungguh cukup. SAAT HENING YANG CUKUP PANJANG INI AKAN SANGAT BERBICARA. Tuhan hadir dalam keheningan dan biasanya buah kehadiran ini tampak terutama dalam orang-orang yang sederhana dan rendah hati.

4. Oratio
a. Pemandu kemudian mengajak peserta untuk memanjatkan doa-doa spontan mereka sebagai jawaban atas firman Tuhan. Peserta-peserta lain diajak untuk mempersatukan dirinya dengan doa-doa saudara-saudaranya. Doa-doa itu bisa bersifat pujian, syukur, permohonan, penyesalan, dst:
b. Seluruh lectio divina dapat ditutup dengan nyanyian Bapa Kami atau nyanyian-nyanyian lain yang sesuai dengan tema / semangat / nada teks Kitab Suci yang telah menjadi bahan lectio divina, atau salah satu mazmur yang sesuai. Setelah semuanya bisa ditutup dengan KEMULIAAN KEPADA BAPA, PUTERA DAN ROH KUDUS.

NB: LECTIO DIVINA INI MEMAKAN WAKTU ANTARA 1¼-1½ JAM.

PASTORAL LECTIO DIVINA

1. Inti ajaran Dei Verbum
- Seluruh umat Kristen harus mendapat jalan supaya sampai kepada Kitab Suci; jalan untuk mendapatkan Kitab Suci harus terbuka lebar-lebar bagi mereka (DV 22)
- hendaknya umat kerap membaca Kitab Suci (DV 25)
- hendaknya mereka belajar berdoa dari Kitab Suci (DV 25)
- untuk mengenal Kristus! (DV 25)

2. Jalan sederhana lectio divina
a. Belajar membuka setiap pertemuan paroki, pertemuan kelompok-kelompok kategorial, kelompok kerasulan dengan suatu lectio divina singkat: pembacaan Kitab Suci, hening untuk merenungkan sabda yang baru didengar, sharing singkat atau berdoa dari Kitab Suci (dari pembicaraan yang baru didengar).
b. Persiapan pengakuan dosa terutama dengan kaum muda melalui Kitab Suci. Adakan pemeriksaan batin melalui Kitab Suci misalnya dari teks-teks khotbah di bukit (Mat 5-7) dan mengajak mereka untuk berdoa memohon ampun berdasarkan firman yang didengar.
c. Mengajak keluarga dan terutama kaum muda untuk mendoakan mazmur-mazmur yang indah (pujian, pernyataan kepercayaan, permohonan) dan jelaskan bagaimana berdoa secara sederhana dari mazmur tersebut.
d. Coba mengajak umat dalam pertemuan-pertemuan lingkungan untuk membicarakan Injil dari minggu sebelumnya dan berdoa dari Injil tersebut.

NB: Bentuk yang paling sederhana dari lectio divina ialah:
1. Doa pembukaan (misalnya dari Mazmur) atau nyanyian kepada Roh Kudus.
2. Pembacaan Kitab Suci.
3. Penjelasan oleh imam (atau pembina/Ketua) tentang isi Kitab Suci (bukan homili!!!)
4. Hening (± 5-10 menit)
5. Mengajak umat untuk berdoa dari bacaan yang baru direnungkan.
6. Nyanyian penutup yang sesuai!

Pengalaman Membaca Kitab Suci dalam Suatu Kelompok Muda-mudi
Dunia dimana kita hidup sekarang dibanjiri oleh bermacam ragam informasi, berita-berita dan yang semacam itu. Datangnya dari mana-mana. Dalam dunia semacam ini terasa semakin perlu bahwa kita memperhatikan Sabda dalam sabda-sabda, satu-satunya yang mampu berbicara dari pribadi ke pribadi, satu-satunya yang benar-benar berdaya guna dan membebaskan. Sabda ini bukanlah suatu gagasan, melainkan seorang Pribadi yang hidup. Dialah Kristus sendiri. Firman Bapa. Dia sungguh hadir secara nyata dan mistik dalam Kitab Suci di samping di dalam Ekaristi. Di sinilah Tuhan menanti untuk berjumpa dengan-Nya, Dia pasti akan memperkenalkan diri-Nya, menyatakan dan memberikan kasih-Nya sendiri kepada kita.

Kita mengetahui bahwa pertemuan antara dua sahabat karib atau antara dua orang yang bertunangan tidak dilakukan secara kebetulan atau hanya kadang-kadang saja. Demikian pula halnya pertemuan dengan Kristus. Perlu ada suatu ketetapan dan keterlibatan setiap hari. Semakin kita datang menemui-Nya dan semakin kita mendambakan untuk tinggal bersama dengan Dia, semakin besar pula Dia akan menyatakan diri-Nya dan memasukkan kita ke dalam misteri-Nya. Kita juga akan semakin tertarik kepada pribadi-Nya. Pertemuan dengan Tuhan melalui sabda-Nya bisa dilaksanakan dengan bermacam-macam cara dan teknik. Salah satunya ialah Lectio Divina yang tidak lain adalah suatu pembacaan penuh hikmat. Kami katakan “pembacaan hikmat “ karena dalam Lectio Divina kita membaca secara mendalam, mencari artinya yang tersembunyi supaya kita dididik, dibina dan dibentuk. Lectio Divina ialah suatu pembacaan untuk mencari wajah Allah, mencari Sang Sabda yang berada di balik kata-kata itu. Kita mencari Dia untuk bersatu dengan Dia. Dari sebab itu, lectio divina menuntut kesetiaan dan ketekunan. Tanpa kedua hal itu tidak akan membawa hasil.

Pembacaan Kitab Suci dengan cara ini telah kami lakukan sejak setahun di San Giovanni a Teduccio, wilayah Napoli . Sepanjang tahun kami telah membaca dan berdoa dari Injil Markus.

Pertemuan itu dilaksanakan sebagai berikut: selalu dimulai dengan nyanyian memohon bantuan Roh Kudus. Kemudian ada pembacaan. Lalu salah seorang menguraikan latar belakang sejarah dan teologis dari teks yang bersangkutan. Tafsiran tentang beberapa ayat yang paling penting diberikan. Menyusul tahap “meditatio” artinya membandingkan perikop yang dibaca dengan perikop-perikop lain dari Kitab Suci agar kami mengerti teks tersebut dengan lebih baik, lalu kami membagi-bagi apa yang merupakan hal yang paling berarti bagi masing-masing secara pribadi. Seluruh kegiatan ini kami tutup dengan mendoakan sebuah Mazmur dan menyanyikan Bapa Kami.

Cara berdoa ini memang tidak mengikuti secara ketat tata tertib suatu lectio divina. Bagian “lectio” tidak diberikan waktu secukupnya, dan “oratio” sama sekali tidak ada. Bagaimanapun juga ini merupakan usaha pertama kami untuk mencari bersama-sama wajah Tuhan dan membaca persoalan hidup kelompok kami di dalam terang sabda-Nya.

Kami belajar Lectio Divina lebih baik setelah kami mengikuti pertemuan Gerakan Kaum Muda Karmel selama tiga hari di Vice Equense. Inilah hari-hari penuh doa. Pagi hari kami dibina dalam lectio divina perseorangan dan kelompok. Setelah pertemuan itu, kami sekarang mulai melaksanakan lectio divina menurut tata tertib yang seharusnya. Kami mulai membaca dan berdoa bersama-sama dari Injil Lukas. Sekarang kami mulai mengerti bahwa hanya satu yang perlu dalam hidup ini yakni duduk di kaki Yesus dan mendengarkan Dia.

MUSPAS V KAE - 2005

RANGKUMAN AKHIR
MUSYAWARAH PASTORAL V KEUSKUPAN AGUNG ENDE
MATALOKO, 3 JULI 2005


1. PENDAHULUAN

Dari tanggal 28 Juni sampai dengan 3 Juli 2005, umat Keuskupan Agung Ende melaksanakan Musyawarah Pastoral ke V di Mataloko. Sebanyak 367 orang yang terdiri dari imam, diakon, biarawan/wati dan awam yang merupakan utusan paroki, TPAPT, tarekat religius, lembaga pendidikan seminari dan LSM menjadi peserta. Bersama-sama dengan bapak uskup, dalam semangat persaudaraan dan keprihatinan untuk melayani seluruh umat terutama mereka yang miskin dan lemah, musyawarah berusaha menggumuli berbagai isu pastoral yang terasa mengganggu kehidupan umat. Para peserta berdiskusi, berbagi pengalaman dan bersama-sama menentukan arah dasar dan strategi pelayanan gereja Keuskupan Agung Ende ke depan. Rangkuman ini merupakan kristalisasi dari semua temuan dan kesepakatan yang dihasilkan dalam MUSPAS V ini.

2. TITIK TOLAK

Gereja Keuskupan Agung Ende sejak tahun 1987 mulai memantapkan reksa pastoralnya melalui Musyawarah-Musyawarah Pastoral. Dalam tiga MUSPAS terdahulu ditemukan tiga akar masalah dalam kehidupan umat yaitu dualisme dalam perkawinan dan hidup keluarga, keterpisahan karya sosio ekonomi dari karya pastoral gereja dan kepemimpinan yang ketinggalan zaman. Tiga akar masalah ini mendorong ditetapkannya tiga prioritas utama yaitu perkawinan kristiani yang selaras zaman, pengembangan sosio ekonomi yang terintegrasi dalam karya pastoral gereja dan kepemimpinan suportip. Selama lebih dari satu dekade, gereja Keuskupan Agung Ende berupaya menggumuli tiga program ini. Dalam kenyataannya banyak program telah dirancang namun terkesan dalam pelaksanaannya program-program itu tidak banyak membawa perubahan sampai ke tingkat akar rumput.

Berdasarkan hasil survey dan katekese umat, MUSPAS IV tahun 2000 di Maumere memformulasikan lagi arah dasar dan strategi pastoralnya. MUSPAS IV menegaskan arah dasar pastoral Keuskupan Agung Ende selama tahun 2000-2005 sebagai praktek pembebasan dan pemberdayaan. Dalam arah dasar ini ditetapkan dua strategi utama yaitu pemberdayaan Komunitas Umat Basis dan fungsionaris pastoral. Kekhasan dalam MUSPAS IV itu ialah menjadikan komunitas umat basis sebagai fokus, lokus dan subyek pastoral. Dengan demikian, Komunitas Umat Basis diharapkan menjadi wahana utama perjumpaan dengan Tuhan dan sesama dalam perjuangan menyelesaikan pelbagai permasalahan yang menggerogoti hidup.

Kini, lima tahun telah berlalu. Sejauh manakah keseluruhan program itu telah membuahkan hasil?

3. EVALUASI

Temuan survey, Muspas kevikepan dan Muspas paroki serta katekese umat menyongsong MUSPAS V di Mataloko menggambarkan bahwa Komunitas Umat Basis memang telah mulai berkembang menjadi persekutuan yang semakin berdaya. Hal ini tampak dalam dua indikator berikut. Pertama, semakin meluasnya jenis dan frekuensi kegiatan. Aktivitas Komunitas Umat Basis tidak lagi hanya sebatas kegiatan kultis-devosional melainkan juga telah mencakup kegiatan-kegiatan ekonomi, sosio-karitatif dan rekreatif. Kedua, sebagian besar pengurus Komunitas Umat Basis telah melaksanakan tugas pastoralnya secara bertanggung jawab, walaupun banyak dari antara mereka belum mendapat pelatihan.

Akan tetapi, di balik dinamika yang menggembirakan ini, Komunitas Umat Basis-Komunitas Umat Basis kita masih tampak dominan berurusan dengan kegiatan-kegiatan untuk kepentingan internal komunitas. Komunitas Umat Basis sebagai komunitas perjuangan dengan semangat martiria masih belum terlalu menyata. Ada juga banyak persoalan yang menghalangi gerak-maju Komunitas Umat Basis menuju idealnya. Ada delapan masalah pokok yang diidentifikasi dalam MUSPAS V ini yaitu rendahnya partisipasi (kehadiran) anggota dalam kegiatan Komunitas Umat Basis, kurang efektifnya fungsionaris awam maupun imam, masih signifikannya angka drop out Sekolah Dasar, kemiskinan yang masih menggurita, masalah-masalah seputar perkawinan (kawin pintas, single parent, broken homes), masalah-masalah kepemudaan dan berbagai masalah sosial (perjudian, kriminalitas, ketidakadilan jender, korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, pengrusakan lingkungan serta perantauan dan pengangguran) yang kian marak.

MUSPAS telah merumuskan akar masalah dari ke delapan isu pokok.
Pertama, masalah menyangkut pengembangan Komunitas Umat Basis khususnya rendahnya kehadiran umat dalam kegiatan / pertemuan dilihat berakar dalam kurang trampilnya fungsionaris, rendahnya kesadaran dan pendidikan umat, pengaruh luar yang membuat orang makin individualistis, hedonistis dan materialistis.
Kedua, isu sekitar fungsionaris pastoral terbabtis disinyalir berakar pada kurangnya pelatihan, ketrampilan serta motivasi, minat dan komitmen.
Ketiga, catatan-catatan kritis tentang fungsionaris tertahbis ditengarai berakar pada rendahnya disiplin diri dan kemampuan manajerial.
Keempat, masalah-masalah sosial yang ada dilihat sebagai akibat dari tekanan ekonomis, ketahanan sosial yang rapuh , krisis nilai, mental cari gampang dan manipulasi struktur.
Kelima, berhubungan dengan isu kemiskinan, MUSPAS melihat sebab utamanya ialah rendahnya ketrampilan, mental cari gampang, kebijakan publik serta kelembagaan yang kurang kondusif dan harus hidup dalam lingkungan alam yang keras.
Keenam, menyangkut isu pendidikan, masih signifikannya angka drop out Sekolah Dasar sangat berkorelasi dengan kemiskinan.
Ketujuh, isu pastoral keluarga dilihat berakar dalam rapuhnya penghayatan hakekat nilai hidup perkawinan, lemahnya kerjasama lintas sektor dan belum berdayanya Komunitas Umat Basis sebagai komunitas perjuangan serta pola pendampingan yang kurang efektif.
Kedelapan, musyawarah melihat bahwa kurangnya keterlibatan kaum muda dalam kegiatan Komunitas Umat Basis dipengaruhi oleh kurangnya kesempatan dan kepercayaan yang diberikan untuk aktualisasi diri dan rapuhnya pendidikan keluarga.

Musyawarah menyadari bahwa segala upaya pastoral untuk menanggapi pelbagai permasalahan ini harus terjadi di Komunitas Umat Basis. Dengan demikian Komunitas Umat Basis tetap menjadi fokus, lokus dan subyek karya pastoral gereja Keuskupan Agung Ende.

4. ARAH DASAR

Sejumlah masalah masih tetap menggerogoti kehidupan umat. Di tengah masyarakat Allah dalam wilayah ini, masih ada banyak keluarga yang hidup dalam kemiskinan, banyak anak usia sekolah yang drop-out, ibu-ibu yang punya anak tanpa suami dengan anak-anaknya yang tanpa bapa, banyak pasangan yang hidup bersama sebelum nikah, kaum muda yang tak punya pekerjaan tetap dan banyak orang yang menjadi korban keganasan pelbagai masalah sosial. Di samping itu, para fungsionaris pastoral, baik yang tertahbis maupun terbaptis tampak kurang efektif melayani umat dalam pergumulan hidup mereka untuk mengatasi kondisi tersebut. Menyaksikan semua situasi ini disepakati bahwa arah dasar karya pastoral gereja Keuskupan Agung Ende ialah pastoral pembebasan dan pemberdayaan Komunitas Umat Basis.

Semua program kerja dan pelaksanaan pelayanan pastoral haruslah bercirikan pemberdayaan umat di Komunitas Umat Basis (anggota, pengurus dan imam) yang pada gilirannya mampu membebaskan dirinya sendiri dari berbagai masalah yang membelenggu. Untuk itu, seluruh umat perlu disadarkan bahwa pelbagai masalah adalah masalah bersama dan Komunitas Umat Basis diberdayakan untuk bisa membebaskan dirinya sendiri dan komunitas lain di sekitarnya.

5. STRATEGI

Berdasarkan arah dasar di atas, musyawarah merumuskan empat strategi pastoral untuk mewujudkan Komunitas Umat Basis yang ideal.

5.1. Memantapkan Komunitas Umat Basis (yang terdiri dari komponen fungsionaris tertahbis, fungsionaris terbabtis dan umat) sebagai fokus dan lokus serta subyek pastoral.

5.2. Memberdayakan fungsionaris pastoral, baik terbaptis maupun tertahbis, sebagai subyek pastoral yang mampu bertahan di tengah pergolakan zaman dan tanggap terhadap masalah yang melanda kehidupan bersama. Untuk itu perlu ditingkatkan mutu hidup iman, moral dan profesionalisme serta relasi yang solid dan bersaudara di antara mereka.

5.3. Memfungsikan Komunitas Umat Basis sebagai komunitas perjuangan yang aktif dan efektif menangani masalah-masalah dalam semangat solidaritas kristiani. Karena itu, usaha-usaha untuk menanggapi berbagai masalah dalam Komunitas Umat Basis yaitu masalah dalam bidang-bidang pastoral keluarga, pastoral pengembangan sosio ekonomi, pastoral pendidikan dan pastoral orang muda serta pelbagai masalah sosial mesti menjadi bagian dari perjuangannya.

5.4. Meningkatkan kehadiran dan keterlibatan anggota Komunitas Umat Basis dalam pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatannya sebagai syarat mutlak hidup berkomunitas.

6. PENUTUP
Demikianlah hasil MUSPAS V Keuskupan Agung Ende. Ziarah pastoral kita belum berhenti. Langkah kita selanjutnya ialah menjabarkan secara konkret dan rinci temuan-temuan ini ke dalam program-program aksi untuk:
“…menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin … memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas dan memberitakan tahun rahmat Tuhan telah tiba." (Lukas 4: 18-19)

Mataloko, 3 Juli 2005
@dikutip dari buku MUSPAS V KAE - 2005 by P. Anselm Meo SVD